Friday, September 30, 2011

TKW and SHELTER in KBRI Malaysia



Siang itu, Kamis bakda sholat zuhur saya dan kawan-kawan UPZ BAZNAS berangkat dari kampus menuju shelter TKW di KBRI Kuala Lumpur. Kira-kira 40 menit kemudian, kamipun sampai di sana. Misi yang kami emban adalah menyerahkan bantuan berupa 5 mesin jahit.

Kedatangan kami disambut oleh bapak Agus selaku atase ketenagakerjaan KBRI. Setelah memencet bel, kamipun masuk ke dalam Shelter TKW yang terletak di belakang KBRI. Saya menyapa para TKW yang terlihat di sekitar pintu masuk. Memang agak sedikit bertanya-tanya ketika bersalaman dengan mereka, seperti ada hal yang tidak biasa dari cara mereka memandang dan berbicara. Dan ternyata benar, pak Agus memberitahukan dengan agak berbisik kepada saya agar menjaga jarak dengan beberapa orang yang ada di shelter,karena kurang waras, tidak sehat secara fisik.

Setelah sedikit mencari informasi dari mbak Indri salah seorang staff pak Agus, maka sedikit terjawablah pertanyaan-pertanyaan saya selama ni tentang shelter. KBRI dalam rangka melakukan pendampingan kepada para TKW yang bermasalah mendirikan dua tempat penampungan yaitu di Rumah Kita dan di Shelter. Di Rumah Kita, jumlah orang yang berada di sana lebih sedikit daripada di Shelter. Saat ini tercatat ada 50-an TKW yang tinggal di Shelter. Para TKW tersebut tidak memiliki dokumen resmi/illegal. Kalaupun memiliki paspor, biasanya paspor mereka disimpan oleh majikan maupun agen yang membawa mereka.

Konon ketika tahun 2009,yang menjadi penghuni shelter sempat mencapai 170 orang. Tidak dapat dibayangkan bagaimana crowdednya shelter pada saat itu. Para TKW tersebut bisa dikatakan sebagai TKW yang bermasalah, yang biasanya menjadi korban. Mereka mengalami kekerasan/penderaan, ditelantarkan maupun tidak dibayar selama bekerja. Mereka datang atas inisiatif sendiri dan kadang juga ada orang lain yang mengantar dengan tujuan agar mendapatkan perlindungan KBRI. Siti hajar, yang sempat menjadi bahan pembicaraan di tanah air sebagai korban kekerasan juga sempat menjadi penghuni shelter setelah ditolong seseorang dan diantarkan oleh taxi menuju KBRI.Tetapi ada juga yang tinggal di shelter karena masalah yang diciptakan oleh dirinya sendiri bukan karena menjadi korban. Misalnya karena lari dari majikan akibat bosan bekerja kemudian gaji bekerja mereka sudah habis selama dalam masa pelarian dan akhirnya datang shelter yang dipandang menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Baju keseharian yang dikenakan oleh mereka pada umumnya berseragam. Berbeda warna, maka berbeda kamar. Warna seragam tersebut adalah merah, coklat, abu-abu, hitam dan hijau. Tidak ada dasar perbedaan dalam penempatan kamar mereka, akan tetapi untuk TKW yang sakit atau membawa bayi, maka akan ditempatkan pada kamar yang lebih luas dengan baju abu-abu. Penghuni shelter berkisar dari umur 15 tahun hingga 50an tahun. Rata-rata mereka tinggal di sana selama lebih dari empat bulan bahkan ada yang sudah mencapai hingga 1.5 tahun.

Penghuni shelter jumlahnya fluktuatif dan berganti-ganti. Hal ini dikarenakan, karena di sana mereka sifatnya hanya ditampung sementara sampai kembali ke tanah air. Setelah Clear and Clean mereka akan segera dipulangkan ke Indonesia, yang biasanya diberangkatkan pada hari Rabu dan Sabtu. Clear maksudnya adalah setelah TKW tersebut sehat secara fisik dan psikis.Clean maksudnya adalah kasus yang mereka alami telah selesai, misalnya tuntutan gaji sudah dibayar oleh majikan mereka.

Setiap hari mereka melakukan aktifitas yang telah terjadwal. Aktifitas yang mereka lakukan adalah melaksanakan jadwal piket untuk memasak, menyapu, mengepel dan membersihkan shelter. Ada pula jadwal pembekalan keterampilan seperti menyulam,menjahit, memasak, membuat kerajinan tangan. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah aktifitas pembinaan fisik dan spiritual seperti senam, pemeriksaan dokter secara rutin dan mengaji setiap pagi. Mereka tidak diperkenankan untuk keluar dari shelter. Jika ada kawan ataupun keluarga yang datang menjenguk, maka harus lapor terlebih dahulu dan melakukan pertemuan di kantor KBRI. Mereka juga tidak diperbolehkan membawa handphone, agar selama dalam penampungan pemikiran mereka tidak terbebani.

Kedatangan kami adalah untuk mengantarkan mesin jahit agar sedikit membantu para TKW yang bermasalah tersebut supaya kelak mendapat bekal keterampilan. Semoga bantuan tersebut bermanfaat, emoga para penghuni shelter tetap bersabar dan segera dapat dipulangkan ke Indonesia untuk kondisi yang lebih baik. Alhamdulillah, semakin bersyukur hamba atas segala nikmat yang Engkau berikan! Thank You Allah..by Yuni Yulia Farikha

No comments:

Post a Comment