Saturday, May 7, 2011

Tabarruj, Ikhtilat wa Afatul Lisan, Let’s Remove Them!





Pelajaran hari ini begitu mengena dan membekas di hati. Penjelasan tentang tabarruj, ikhtilat dan afatul lisan (bahaya lisan) selama satu setengah jam dirasakan dapat membuat diri ini menjadi semakin merasa bersalah, merasa berdosa dan berniat untuk muhasabah diri. Ya Rabb, terima kasih kami telah diingatkan. Tanpa sadar, kalimat istighfar selalu terucap selama materi itu dikupas.


Tabarruj, sebenarnya sudah bukan asing lagi di telinga kita. Seringkali istilah itu didiskusikan di forum-forum pengajian, dikupas di buku maupun media informasi yang lain. Tabarruj secara bahasa berarti ketinggian, menarik perhatian. Segala sesuatu yang menarik perhatian dan membangkitkan nafsu, itulah tabarruj. Sebagai wanita kita diperintahkan untuk tidak menampakkan perhiasan sebagaimana orang-orang jahiliyah yang tertulis dalam surat Al Ahzab ayat 33.


Tabarruj dikatakan juga berhias seperti orang jahiliyah. Dahulu ketika masa Rosulullah, seorang wanita disebut jahiliyah ketika dia keluar rumah, bercampur dengan laki-laki, berlenggak-lenggok dan menampakkan leher mereka. Tabarruj merupakan bagian dari protokoler Yahudi untuk menghancurkan Islam khususnya para perempuan. Saat ini, era modern, fenomena jahiliyah modern justru lebih parah lagi daripada jahiliyah pada zaman rosulullah. Tidak hanya leher yang tampak , tetapi aurat dibiarkan terbuka bahkan dipertontonkan di depan khalayak ramai. Rasa malu berubah menjadi rasa bangga, nauzubillahi min zalik. Tidak heran jika kemudian fenomena inilah yang menyebabkan kehidupan sekarang penuh dengan fitnah.


Sebagai seorang muslimah yang telah berusaha menutup aurat dengan berjilbab maupun berbusana Muslim ternyata juga berpotensi terkena penyakit tabarruj. Penampilan muslimah saat ini, tidak pelak menimbulkan daya tarik bagi kaum adam. Bahkan, muslimah bercadarpun ada kemungkinan dapat membangkitkan nafsu laki-laki hanya karena melihat dari mata yang indah. Sehingga dalam hal ini, mari kita introspeksi diri, apakah selama ini penampilan kita sudah terhindar dari tabarruj, tidak menarik perhatian? Pilihan warna, model baju, kerudung kita dan wajah kita apakah menarik perhatian? Ketika banyak orang berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan dan mempercantik wajah, yang paling utama adalah meluruskan tujuan atau niatan kita. Untuk apa kita melakukan semua itu?agar menarik perhatian atau semata-mata karena untuk menjaga anugrah dari Allah ini sekaligus untuk menjaga kesehatan kita?.


Ikhtilat yaitu bercampurnya dua atau lebih laki dan perempuan. Aktifitas belajar, berdiskusi dengan lawan jenis memang tidak bisa dihindarkan selama study. Tapi seharusnya kita punya komitmen untuk meminimalisir berhubungan dengan kaum adam, baik yang masih single maupun yang sudah menikah. Janganlah kita membuka peluang hubungan lebih dekat, misalnya dengan ngobrol, telepon, chating bahkan sampai berkhalwat, nauzubillahi minzalik. Beberapa bahaya dari ikhtilat diantaranya maksiat kepada Allah, termasuk dosa besar, mendatangkan laknat, sifat penghuni neraka dan menodai kehormatan keluarga serta masyarakat.


Afatul lisan artinya bahaya lisan, namun bukan berarti bahwa lidah selalu membawa mudharat tetapi lidah juga bermanfaat bagi manusia. Rasulullah saw berpesan “barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah berkata yang baik atau diam”. Dan ingatlah bahwa ketika hari kiamat nanti lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas apa yang kita kerjakan sebagaimana surah Annur: 24. Dalam surah Qoof :18 juga disebutkan bahwa tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan, kecuali di dekatnya ada malaikat Raqib dan Atid.


Secara ilmiyah, ilmu kedokteran membuktikan bahwa diantara lubang-lubang yang terdapat dalam tubuh manusia, seperti lubang hidung, telinga, saluran kotoran. Namun hanya lubang mulut yang paling banyak mengandung virus. Secara lahiriah, mulut mengandung banyak virus, apalagi secara batiniah.


Imam Al bashri mengemukakan bahwa lidah orang berakal itu terletak di belakang akalnya. Jika ia berkata, maka ia akan berpikir terlebih dahulu. Ada banyak fenomena bahaya lisan yaitu ungkapan yang tidak berguna, berbicara berlebihan, ungkapan yang mendekati kebatilan dan maksiat, berbantah-bantahan bertengkar dan berdebat kusir, banyak berbicara yang berlebihan karena ingin mendapatkan haknya, bercanda dan bersenda gurau, ungkapan yang menyakitkan/nyelekit, melaknat walaupun binatang atau benda maupun manusia, bernyanyi dan bersyair yang menimbulkan nafsu, berfasih-fasih dalam berbicara untuk menarik perhatian, membocorkan rahasia, dusta dalam janji dan sumpah, menceritakan keburukan orang lain/ghibah, menyanjung yang menjerumuskan, menyebutkan sesuatu yang membuat malu/kejelekan sehingga membuat tertawa dan bertanya-tanya yang bukan-bukan hingga memberatkan orang untuk menjawab.


Bagaimana kita menjauhi bahaya lidah? Dua hal yang penting dalam hal ini untuk menjadi pedoman. Mari jaga mulut kita agar tidak kemasukan barang haram dan jaga mulut kita agar tidak mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak dikatakan. Abu bakar dikenal sebagai orang yang paling hemat dalam berbicara. Ketika ditunjuk sebagai khalifah, beliau hanya berpidato sebentar, singkat namun padat. Hingga para sahabat dan kaum musliminpun dapat menghafal pidato beliau. Kepemimpinan model Abu bakar inilah yang diidamkan saat ini. Hemat berbicara, singkat padat, penuh arti dan konsisten. Apa yang dikatakan itulah yang ada dalam pikiran maupun perasaan. Antara ucapan dan tindakan tidak ada perbedaan.


Alla kulli hal, tidak ada kata terlambat dalam kita memperbaiki diri kita. Memang memerlukan proses untuk bisa 100 % steril dari tabarruj, ikhtilat maupun bahaya lisan. Mari berazzam untuk memperbaiki diri dan menjauhkan dari tabarruj, ikhtilat dan menjaga lisan kita. Dan jangan lupa untuk saling mengingatkan. Wallahu’alam
By Yuni Yulia Farikha referenced from Materi Tazkiyah Tarbiyah

No comments:

Post a Comment