Wednesday, February 2, 2011

Ikut Jejak Sayyidina Siti Khatijah Yuk! (Belajar Sambil Berbisinis)



Bunda Khatijah, istri rasulullah adalah salah satu figur yang selalu terngiang-ngiang di benak saya. Dari sirah bisa kita ketahui begitu luar bisa kepribadian beliau, memiliki akhlakul karimah yang tidak diragukan lagi, seorang istri yang sabar dan selalu menjadi tempat berlabuh suaminya di kala sedih, ketakutan bahkan ketika orang-orang pada waktu itu memusuhi rasulullah. Satu hal lagi yang menjadi keunggulan beliau adalah seorang pedagang yang sukses. Sebelum beliau menikah dengan Rosulullah, meski berstatus sebagai seorang janda namun beliau adalah seorang pedagang yang ulung, memiliki omset besar dan memiliki banyak pegawai hingga rasulpun menjadi salah satu pegawai beliau pada waktu itu. Khatijah hidup di jazirah Arab, yang pada waktu itu menjadi pedagang adalah lebih mulia dibandingkan profesi menjadi pegawai pemerintah. Namun saat ini, justru kebalikan. Kita bisa melihat banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi pegawai negeri bahkan hanya sedikit yang memiliki kemauan untuk menciptakan peluang kerja sebagai seorang entrepreneur-pedagang. Kira-kira jika kita melihat fenomena saat ini, masih adakah wanita sekokoh sebaik sehebat bunda Khatijah?

Insha Allah, saya berkeinginan untuk mengikuti jejak bunda Khatijah, menjadi seorang entrepreneur - di dunia perdagangan. Berdagang adalah hal yang mudah. Itulah salah satu alasan saya untuk memulai aktifitas berjualan sejak masih berada di bangku sekolah dasar. Ketika SD, saya sudah terbiasa untuk membantu orang tua berjualan. Kebetulan dulu orang tua memiliki toko kelontong, sehingga hampir setiap hari di sela-sela waktu kosong saya terbiasa ikut melayani pembeli.

Pada waktu memasuki sekolah lanjutan atas, pengeluaran semakin besar apalagi saya bersekolah di luar kota yang harus ditempuh dalam waktu 1.5 jam dari rumah setiap hari, tepatnya dari kota Magelang ke Temanggung. Untuk mengurangi beban orang tua saya mulai menjadi distributor majalah–majalah Islami, seperti Annida, Umi, Sabili dan Tarbawi. Saya mendapatkan majalah tersebut dari kawan yang bertemu dalam sebuah pengajian. Tidak memerlukan modal, hanya berbekal kepercayaan dan kejujuran saya menjual majalah-majalah tersebut dan membayarnya kembali setelah terjual. Tidak hanya majalah, karena kawan tersebut juga menjual barang – barang perlengkapan muslim seperti jilbab, baju muslim dan lainnya, maka sayapun menawarkan barang – barang tersebut kepada kawan dan guru di sekolah. Awal – awal memulai berjualan, mencari pelanggan adalah sesuatu yang tidak mudah. Selama melakukan bisnis di sekolah diperlukan keberanian, tidak boleh malu dan dapat berkomunikasi dengan baik. Lambat laun, orangpun mulai mengenal saya dan bukan lagi saya mencari pembeli tetapi justru kebanyakan pembeli yang menghubungi saya.

Memasuki masa study di salah satu perguruan tinggi swasta, saya tetap melanjutkan kegiatan berdagang. Saya melihat peluang untuk berbisnis itu selalu ada di mana-mana. Hanya tergantung pada kita sendiri apakah kita akan mengambil peluang itu atau tidak. Saya harus berbisnis, itulah komitmen saya. Apalagi sebagai anak pertama dari empat bersaudara, saya merasa dituntut agar tidak tergantung kepada orang tua dan bisa membiayai segala keperluan sendiri. Alhamdulillah, hampir setiap semester saya mendapatkan beasiswa prestasi dan juga meski kecil, saya memiliki income tetap dari akifitas sebagai fasilitator desa dan dari berdagang jilbab dan perlengkapan muslim yang lain. Namun ketika tahun kedua dan ketiga kuliah, aktifitas berdagang sempat terhambat karena kesibukan di berbagai organisasi. Mulai tahun keempat kuliah, sambil menyelesaikan skripsi dan mengurangi aktifitas organisasi saya memulai bisnis baru.

Bisnis yang saya buat di akhir tahun kuliah adalah packing snack. Dengan modal yang sedikit, tidak memerlukan banyak peralatan dan mudah untuk dilakukan, saya memulai bisnis ini. Pada waktu itu saya tinggal di salah satu tempat kos di sebelah kampus tempat saya kuliah. Saya membeli beberapa jenis makanan ringan dalam pack besar dari pasar kemudian mengemasnya dalam pack yang kecil dan menjualnya dari ukuran kecil seharga Rp. 500, 250 gram dan ½ kg. Dengan menggunakan sepeda, saya titipkan snack tersebut di koperasi kampus dan toko – toko di sekitar kampus dan tempat kos saya tinggal. Alhamdulillah, selain dapat menghasilkan uang, saya juga mendapatkan networking yang semakin banyak.

Aktifitas bisnis berlanjut hingga saat ini saya sedang menjalani study lanjut master di IIUM. Meski tidak mendapatkan beasiswa, Alhamdulillah sampai saat ini saya bisa survive, memenuhi keperluan selama study sendiri termasuk tuition fee, asrama dan bea hidup yang lain dari mengajar privat dan bisnis snack. Saya yakin, sepanjang kita berusaha sepanjang itulah Allah akan memberikan jalan. Tinggal di bukan negara sendiri bukan berarti tidak ada peluang bagi kita untuk berbisnis. Peluang berbisnis akan selalu ada. Setelah kita mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan pasar (permintaan), maka kita bisa mewujudkan bisnis kita berdasarkan modal yang kita miliki (penawaran), baik modal uang, ketrampilan maupun waktu. Saya tinggal di salah satu asrama di IIUM bersama kurang lebih 1000 orang mahasiswa di dalamnya. Saya merasa bahwa saya berada di pasar yang sangat potensial. Saya berjualan baju batik, jilbab dan perlengkapan muslim yang lain yang saya beli setiap pulang ke Indonesia. Selain itu, tidak ketinggalan saya juga berjualan snack.

Makanan ringan diperlukan mahasiswa untuk menemani mereka ketika belajar maupun aktifitas lain. Dengan modal yang kecil, maka mulailah saya membeli snack dari toko grosir yang berada di luar kampus sejauh 5km. Awalnya saya pergi kesana dengan naik bis, kemudian seiring waktu seiring dengan permintaan snack yang semakin besar, maka pengadaan snack semakin mudah. Toko bersedia mengantar barang langsung ke asrama, sehingga saya cukup pesan via telepon mereka akan segera mengirimkan barang. Nama snack saya adalah LA TAHZAN, yang berarti jangan bersedih. Alhamdulillah, respon pasar tentang snack tersebut luar biasa. Bahkan banyak yang menyukainya berawal dari nama snack. Saya mengemas snack dalam beberapa ukuran yaitu pack kecil 50 sen, 500 gram dan 1.1kg. Setelah mendapat legalitas untuk berjualan dari principal mahalah, maka setiap pagi snack diletakkan di depan pintu tiap blok di asrama, petang hari uang diambil dan melakukan packing pada malam hari dan terkadang di sela-sela kesibukan. Alhamdulillah, pembeli snack tidak hanya mahasiswa yang tinggal di asrama saya tetapi mahasiswa yang tinggal di asrama yang lainpun sering order snack. Hingga kadang untuk penghantaran snack ke asrama lain, saya meminjam sepeda motor madam security asrama, tentu saja karena telah menjalin hubungan yang baik dengan beliau. Alhamdulillah sering tidak terduga – duga, saya mendapatkan pesanan untuk kegiatan organisasi yang ada di kampus dalam jumlah puluhan maupun ratusan pack.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa kesuksesan sebuah bisnis memerlukan jaringan yang kuat. Saya memiliki keinginan untuk mengembangkan bisnis snack at least di lingkungan IIUM yang memiliki 17 asrama, namun saya tidak memiliki waktu dan tenaga yang mencukupi, saya memerlukan jaringan usaha yang kuat untuk ekspansi bisnis. Sehingga akhirnya saya mengkoordinir sebuah grup, Fariha Group yang sementara terdiri dari lima mahasiswi yang saya kenal dari pengajian dimana memiliki keinginan untuk belajar dan berbisnis sekaligus diharapkan menjadi bagian dari solusi problem keuangan. Semoga Fariha Group istiqamah dalam berbisnis baik di kampus maupun pasca kampus.aamiin.

Masha allah, banyak manfaat yang bisa didapatkan dari berbisnis snack. Mendapatkan uang, memiliki banyak teman, utamanya mahasiswa Malaysia, karena snack yang saya jual adalah snack khas Malaysia dan juga mempermudah untuk berdakwah (ketika kita semakin mengenal banyak orang). Tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan berbisnis tidaklah mudah sebanding dengan semakin besar manfaat yang akan didapatkan. Merasa kepayahan ketika melakukan packing, keterbatasan waktu, keterbatasan modal dan tenaga serta alat transportasi yang dimiliki. Kadang aktifitas belajarpun sedikit terganggu, karena pada waktu yang bersamaan kami harus mempersiapkan pesanan. Insha Allah dengan management waktu yang baik antara belajar dan bekerja, everything will be going well. Ada ide merambah bisnis ke usaha yang lain, masih dalam proses, semoga dipermudah. Keinginan saya adalah mengikuti kisah sukses bunda Khatijah, memberdayagunakan peran muslimah dan semakin memberikan manfaat bagi ummat. Dan semoga kami bisa menyelesaikan study di IIUM dengan baik sambil mengembangkan bisnis ini. Aamiin. Tertarik berbisnis? Yuk! beranilah untuk memulai dari sekarang. Wallahu’alam.By Yuni Yulia Farikha

No comments:

Post a Comment